Ekspedisi Wallacea Dorong Usulan Kawasan Konservasi Terpadu 6.000 Km Persegi di Sulawesi

waktu baca 3 menit
Senin, 5 Jan 2026 16:01 93 Vritta

Vritta.id-Temuan ilmiah dari Wallacea Expeditions mengungkap bahwa kawasan Wallacea berada di titik kritis, dihadapkan pada ancaman eksploitasi sumber daya alam di tengah urgensi perlindungan lingkungan. Dari hasil riset ini, para ilmuwan kemudian mengusulkan pembentukan lanskap konservasi terpadu seluas sekitar 6.000 kilometer persegi di Sulawesi Tenggara dan wilayah sekitarnya.

Kawasan Wallacea mencakup kepulauan di Indonesia bagian tengah, yaitu Sulawesi, Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara (termasuk Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor), serta Timor Leste, yang dipisahkan dari paparan Asia (Sundaland) dan Australia oleh laut dalam, menjadikannya zona transisi dengan keanekaragaman hayati unik dan spesies endemik yang kaya.

Ekspedisi ilmiah yang kali ini mengungkap bahwa kawasan Wallacea menyimpan nilai strategis yang saling terhubung, mulai dari keanekaragaman hayati endemik, sistem hidrologi utama, struktur geologi dan karst, hingga warisan arkeologi prasejarah. Kombinasi nilai ini menjadikan Wallacea sebagai salah satu bentang alam strategis di Indonesia, sekaligus penyangga ekologis lintas provinsi di Pulau Sulawesi.

Evrard Wendenbaum, Founder & President Naturevolution, organisasi konservasi internasional yang berbasis di Prancis, mengungkapkan, bahwa hasil penelitian yang melibatkan Naturevolution, khususnya di wilayah Sulawesi, telah berlangsung lebih dari satu dekade, dimulai sejak 2012, melalui eksplorasi kawasan Pegunungan Matarombeo, wilayah terpencil yang masih menyimpan hutan hujan primer dalam kondisi relatif utuh.

“Dalam ekspedisi ini, tim lmuwan menemukan beragam bentang alam yang masih terjaga seperti Sungai Lalindu, jaringan gua karst berukuran besar, jembatan alami, serta hamparan hutan pegunungan tropis. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi berbagai spesies satwa endemik Sulawesi yang rentan dan terancam punah,” kata Evrard.

Selain aspek ekologi, Wallacea Expeditions juga mengumpulkan data penting terkait wilayah resapan air yang menjadi sumber kehidupan bagi ratusan ribu penduduk. Temuan budaya dan arkeologi turut memperkuat nilai kawasan, berupa fragmen keramik, lukisan gua prasejarah, serta indikasi aktivitas manusia purba yang menunjukkan panjangnya sejarah hunian di kawasan tersebut.

Namun, hasil kajian ilmiah juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap hutan primer Sulawesi. Perluasan perkebunan, pembukaan lahan, serta aktivitas pertambangan khususnya nikel, telah memicu fragmentasi hutan dengan laju yang dinilai mengkhawatirkan. Analisis spasial menunjukkan adanya tumpang tindih kawasan hutan utuh dengan konsesi tambang, jalur pembalakan, dan area penimbunan material tambang.

Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, menilai, kegiatan ekspedisi di kawasan Gunung Tangkelemboke dan sekitarnya, sebagai langkah berani yang memberikan gambaran nyata kondisi lapangan.

Ia mengungkapkan, tim ilmuwan bertahan hampir 50 hari di lapangan, lebih lama dari rencana awal, untuk memastikan data yang dikumpulkan benar-benar merepresentasikan kondisi kawasan.

Menurut Hugua, kawasan Gunung Tangkelemboke (Kabupaten Konawe Utara), Karst Matarombeo (Konawe Utara), dan wilayah sekitarnya, memiliki peluang besar untuk diselamatkan, sebab hingga kini belum terdapat izin usaha pertambangan (IUP) yang beroperasi.

Kondisi ini  membuka ruang bagi pemerintah untuk mendorong penetapan kawasan sebagai kawasan konservasi nasional, meskipun keputusan akhir sepenuhnya berada di level pemerintah pusat.

“Perlindungan kawasan seluas sekitar 6.000 kilometer persegi, sangat menentukan keberlanjutan Sungai Lasolo, Sungai Walalindo, dan Sungai Konaweha, yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan,” kata Hugua.

Seluruh temuan Wallacea Expeditions kini dihimpun sebagai bahan advokasi ilmiah dan dasar dialog dengan kementerian terkait, dengan target mendorong penetapan kawasan sebagai Taman Nasional serta UNESCO Global Geopark.

 

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA