Ekonomi Sultra Harus Tumbuh 6,2 Persen agar Lepas dari LOwer Middle Income Trap

waktu baca 2 menit
Kamis, 13 Feb 2025 21:01 330 Vritta

Vritta.id-Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Doni Septadijaya mengatakan, ekonomi Sultra harus tumbuh 6,2 persen agar terlepas dari jerat Lower Middle Income.

Fakta ini diungkapkan Doni, saat memimpin sesi diskusi bersama puluhan awak media di Kendari, Kamis, 12 Februari 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah lain cukup massif, sedangkan Sultra jauh tertinggal.

“Pertumbuhan ekonomi Sultra jauh tertinggal dari Sulteng dan Maluku Utara. Sulteng mencapai 9,89 persen, Maluku Utara 13,73 persen, Sultra sendiri 5,40 persen,” kata Doni.

Meski masih tertinggal jauh dari daerah lainnya, Sultra masih menunjukkan peningkatan perekonomian yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Secara statistik, Sultra masih mencatat peningkatan perekonomian dari 5,35 persen di tahun 2023, menjadi 5,40 persen di tahun 2024.

Langkah strategis yang ditempuh BI agar pertumbuhan ekonomi Sultra menyentuh angka 6,2 persen adalah berkolaborasi bersama pemerintah mendorong sektor unggulan daerah meliputi sektor pertanian, perikanan, pertambangan, industri pengolahan, dan sektor penunjang lainnya.

Sejauh ini, kata Doni, BI Sultra bersama pemerintah setempat telah mencanangkan program-program strategis dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra, diantaranya optimalisasi program pemodalan AMAN yang melbatkan Baznas dan Bank Sultra. Program ini menargetkan 1000 UMKM yang tersebar di Sultra.

“Program strategis yang tak kalah pentingnya adalah akselerasi industri pengolahan non-tambang serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” kata Doni.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh lima sektor unggulan diantaranya sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan sebesa 23,48 persen, disusul sektor pertambangan dan penggalian 21,1 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 15,03 persen, konstruksi 12,51 persen, serta industri pengolahan 11,04 persen.

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA