AI Berdaulat Diproyeksikan Mendorong Pertumbuhan PDB Indonesia hingga 140 Miliar Dollar AS pada 2030

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Okt 2025 17:37 182 Vritta

Vritta.id-Pemerintah Republik Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan status negara berpenghasilan tinggi pada 2038 sebagai bagian dari visi Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.

Salah satu pendorong utama pencapaian tersebut adalah pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) yang berdaulat.

Menyadari pentingnya hal ini, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat/IOH) bersama Twimbit, perusahaan riset dan konsultasi terkemuka, meluncurkan Empowering Indonesia Report 2025 bertema “Building Bridges of Tomorrow”.

Laporan ini menegaskan bahwa AI berdaulat menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Laporan tersebut menguraikan lima pilar utama menuju kedaulatan AI:

1. Infrastruktur digital andal,

2. Tenaga kerja AI berkelanjutan,

3. Industri AI yang tumbuh,

4.  Riset dan pengembangan yang mumpuni, serta

5. Regulasi dan etika yang kokoh.

Jika dijalankan secara strategis, adopsi AI berdaulat berpotensi menambah USD 140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8%, serta mempercepat pencapaian status negara berpenghasilan tinggi ke 2041,  atau bahkan 2038 dalam skenario terbaik.

Penerapan AI berdaulat juga diproyeksikan meningkatkan produktivitas hingga 18% di sektor jasa, 15–20% di manufaktur, dan 5–8% di pertanian, sehingga memperkuat daya saing dan efisiensi nasional.

Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, mengatakan bahwa AI bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kemandirian bangsa.

“Kedaulatan AI berarti kita membangun teknologi yang merefleksikan nilai-nilai Pancasila, menjamin etika dan keamanan, serta memastikan manfaatnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat,” kata Nezar Patria.

Dalam konteks kesiapan infrastruktur,  Indonesia tercatat membutuhkan investasi USD 3,2 miliar hingga 2030 untuk memenuhi kebutuhan komputasi nasional. Saat ini, AI data center di Indonesia baru mencakup kurang dari 1% dari pasar global, menandakan perlunya percepatan pembangunan pusat data bertenaga energi terbarukan dan jaringan 5G yang lebih luas.

Laporan ini juga menyoroti kebutuhan pengembangan 400 ribu talenta AI pada 2030, dengan investasi USD 968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling tenaga kerja.

Indonesia saat ini memiliki 364 startup AI dengan total pendanaan mencapai USD 1,08 miliar, serta inisiatif riset nasional seperti Sahabat-AI V2, Large Language Model (LLM) berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Batak.

Manoj Menon, Founder dan CEO Twimbit, menambahkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin di era AI berdaulat.

“Dengan membangun fondasi digital yang kuat dan menciptakan ekosistem yang inklusif, Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan AI di Asia, mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” kata Manoj Menon.

Sementara itu, Vikram Sinha, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan bahwa Kedaulatan AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri.

“Melalui kolaborasi strategis dan inovasi berkelanjutan, kami berkomitmen menghadirkan konektivitas yang inklusif dan solusi AI yang beretika untuk memberdayakan setiap lapisan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya

Laporan ini diakhiri dengan seruan aksi lintas sektor untuk memperkuat fondasi infrastruktur, membangun talenta masa depan, dan menegakkan tata kelola AI yang beretika, agar Indonesia dapat bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi arsitek peradaban digital yang berdaulat.(***)

PENULIS :
EDITOR :

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA