Mantri BRI Hadirkan Akses KUR, Secercah Harapan Baru di Pulau Terpencil Maluku

waktu baca 6 menit
Senin, 10 Agu 2026 19:40 59 Vritta

Vritta.id-Masyarakat Pulau Kelang dan pulau-pulau kecil lainnya di Kabupaten Seram Bagian Barat yang sebelumnya sama sekali belum tersentuh akses terhadap layanan keuangan karena kendala jarak dan kondisi geografis, kini mulai merasakan perubahan.

Perlahan, akses layanan keuangan mulai hadir di tengah masyarakat Pulau Kelang.

Sebelumnya, masyarakat Pulau Kelang dan pulau-pulau kecil lainnya di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, sama sekali belum tersentuh akses terhadap layanan keuangan karena kendala jarak dan kondisi geografis. Padahal, pulau ini menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Kini, hal yang berbeda dirasakan masyarakat. Di balik perubahan tersebut, ada sosok perempuan bernama Asti Alimin. Ia menjawab tantangan pengabdian dengan menjadi sosok yang menjemput asa para nasabah di pelosok kepulauan, menghubungkan harapan dengan akses terhadap layanan keuangan.

Di bawah langit Kepulauan Maluku yang sering kali berubah cuaca dengan drastis, Asti berdiri dengan waspada di atas perahu fiber yang membelah ombak di Selat Haya.

Tangannya mencengkeram pinggiran perahu, sementara matanya menatap tajam ke arah cakrawala.

Asti Alimin merupakan Mantri BRI Kantor Cabang Masohi dari Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku yang sedang menjalankan Amanah pengabdiannya, melayani para nasabah sampai pelosok kepulauan.

Perjalanan Asti bukanlah perjalanan kerja biasa. Bagi masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat, dia lah yang menjadi jembatan penghubung harapan masyarakat akan akses terhadap layanan keuangan.

Pengabdiannya dimulai sejak 2020, ketika ia mendapat amanah untuk menjangkau nasabah yang berada di wilayah yang sebagian besar terdiri atas lautan dan pulau-pulau kecil. Salah satu wilayah dengan tantangan terbesar adalah Pulau Kelang.

“Ada satu pulau yang baru kami buka layanannya karena banyak permohonan masyarakat yang selama ini terkendala jarak,” kata Asti.

Permohonan nasabah ini menjadi titik awal bagi Asti untuk mengenal lebih dekat kondisi masyarakat Pulau Kelang. Dari berbagai kunjungan yang dilakukannya, ia melihat bahwa di balik keterbatasan akses, pulau ini menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Namun, selama bertahun-tahun masyarakat belum tersentuh layanan perbankan karena kondisi geografis  yang sulit dijangkau.

Berbekal komitmen untuk menghadirkan layanan hingga ke pelosok, Asti menempuh perjalanan melalui jalur darat dan laut demi membuka akses keuangan bagi masyarakat Pulau Kelang.

Ia menyebut, perjalanan menuju Pulau Kelang bukanlah rutinitas yang mudah. Setiap kali hendak menuju wilayah ini, Asti harus menempuh perjalanan darat selama sekitar satu jam dari kantornya di Piru, menuju titik penyeberangan di Waesala.

Setibanya di Waesala, ia masih harus menyeberangi lautan selama kurang lebih satu jam untuk mencapai pulau utama. Waktu tempuh pun dapat bertambah sekitar satu jam agar bisa menjangkau kampung-kampung lain yang tersebar di pulau tersebut.

Bagi Asti, laut bukan sekadar jalur penghubung, melainkan juga menjadi bagian dari medan kerja yang penuh tantangan. Kondisi cuaca di Maluku sangat dipengaruhi oleh musim (monsun) barat dan musim (monsun) timur.

Saat musim barat tiba, gelombang tinggi kerap menerjang perairan Waesala hingga Selat Hayacoba, sehingga perjalanan menuju Pulau Kelang membutuhkan kehati-hatian ekstra.
Cara Asti Hidupkan Harapan Warga Pulau Kelang

Lantas, mengapa Asti bersedia menempuh bahaya sebesar itu? Jawabannya ada pada beban moral dan cinta pada tanah kelahirannya. Saat masih kuliah, Asti menyaksikan keluarganya di pulau yang kesulitan mendapatkan modal usaha.

Asti mengatakan, keluarganya harus menempuh perjalanan jauh ke Ambon atau Masohi, namun seringkali pulang dengan tangan hampa karena akses geografis yang dianggap mustahil oleh pihak bank.

Asti menemukan banyak warga pulau yang menjadi korban penipuan oknum. Warga diminta menyetorkan uang muka jutaan rupiah dengan janji pinjaman, namun pelaku kemudian menghilang tanpa jejak.

“Itu yang jadi motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mampu bekerja tapi mereka ditipu,” ujarnya.

Asti memulai langkahnya dengan edukasi. Strateginya pun unik. Ia tidak langsung menawarkan kredit, melainkan membangun jaringan BRILink Agen terlebih dahulu. Ia ingin masyarakat memiliki tempat untuk bertransaksi tanpa harus menyeberang ke kota. Dari sana, ia perlahan memberikan literasi keuangan.

Namun, Asti lagi lagi menghadapi tantangan baru yang klasik, di mana warga terbiasa menyimpan uang secara tradisional. Asti pernah menemukan nasabah yang menyimpan uang di dalam bantal atau di bawah kasur hingga uang tersebut hancur dimakan tikus.

“Saya bilang ke mereka, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi,” katanya.

Gencar Edukasi Layanan Perbankan Digital

Asti memutuskan ambil andil mengedukasi warga menggunakan aplikasi perbankan digital seperti BRImo. Asti juga menjelaskan perbedaan mendasar antara perbankan resmi dan rentenir agar warga tidak terjerat utang yang mencekik.

Kini, kerja keras Asti mulai membuahkan hasil yang nyata. Dari nol, ia kini mengelola lebih dari 700 debitur di wilayah itu. Namun, bagi Asti, angka-angka tersebut hanyalah statistik, sebab bagi Asti keberhasilan sesungguhnya ada pada perubahan hidup para nasabahnya.

Berkat akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ia perjuangkan untuk warga setempat, wajah ekonomi Pulau Kelang berubah. Para nelayan yang dulunya hanya mengandalkan mesin kecil kini mampu membeli mesin dengan tenaga yang lebih besar.

Alhasil, dengan mesin baru, mereka bisa mendistribusikan hasil tangkapan ikan atau hasil bumi seperti jahe, kunyit, dan minyak kayu putih langsung ke Ambon demi mendapatkan harga yang lebih kompetitif, tanpa harus bergantung pada tengkulak.

Asti menuturkan bahwa kisah sukses paling mengharukan juga datang dari sektor pendidikan. Asti bercerita dengan bangga bahwa di salah satu kampung, ada sekitar 28 pemuda yang berhasil lolos ujian TNI, karena orang tua mereka memiliki modal yang cukup untuk membiayai persiapan dan pendidikan anak-anak mereka.

“Setiap kali dengar mereka bilang ‘untung ada kamu berani buka akses ke sini’, rasa lelah saya hilang,” kata Asti.

Harapan terbesar Asti pun sederhana, namun begitu berarti. Ia ingin perekonomian di Maluku, khususnya di wilayah kepulauan tempatnya bertugas, dapat berkembang dan memiliki kesempatan yang setara dengan daerah lain di Indonesia.

Ia berharap suatu hari nanti, meski dirinya tak lagi bertugas di sana, masyarakat telah mandiri secara finansial, akrab dengan teknologi, dan memiliki daya saing ekonomi yang kuat.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan kehadiran Mantri BRI di berbagai wilayah menjadi bagian penting dalam memperluas pemerataan layanan keuangan, khususnya bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Melalui pendampingan yang konsisten, kedekatan dengan masyarakat, serta pemahaman terhadap karakteristik ekonomi lokal, BRI berupaya memastikan bahwa layanan keuangan dapat memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan

“Kisah Asti Alimin menjadi cerminan semangat para Mantri BRI dalam menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, BRI membuktikan bahwa selain membuka akses terhadap layanan perbankan, inklusi keuangan juga menghadirkan harapan, mendorong kemandirian, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama,” kata Dhanny.***

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA