Pemkot Kendari Galang Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Kasus Stunting

waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Okt 2025 21:45 192 Vritta

Vritta.id-Pemerintah Kota Kendari (Pemkot Kendari), menggalang aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan kasus stunting.  Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Stunting terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.

Aksi pencegahan dan percepatan penurunan kasus stunting ini dirumuskan lewat rapat TPPS tingkat Kota Kendari, Kamis, 16 Oktober 2025. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari Amir Hasan, menekankan bahwa rapat TPPS ini merupakan forum strategis yang meliputi evaluasi, koordinasi, dan konsolidasi lintas sektor.

Menurut Amir Hasan, sinergi antarinstansi menjadi kunci utama dalam mencapai target penurunan stunting secara efektif dan berkelanjutan.

“Rapat ini bukan hanya ajang pertemuan, tapi ruang bersama untuk memastikan semua kegiatan yang sudah direncanakan berjalan tepat sasaran. Ini penting untuk mempercepat penurunan angka stunting di Kota Kendari,” kata Sekda Amir Hasan.

Amir Hasan lebih jauh mengungkapkan bahwa stunting bukan sekadar isu tentang tinggi badan anak yang tidak sesuai usianya, tetapi merupakan indikator yang jauh lebih kompleks dan multidimensional.

“Stunting mencerminkan kualitas hidup masyarakat. Ini menyangkut banyak aspek mulai dari asupan gizi, pola asuh, sanitasi, hingga ketahanan pangan keluarga,” katanya.

Amir Hasan menekankan bahwa karena rumitnya faktor penyebab kasus stunting, maka diperlukan pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan dalam penanganannya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak stunting bersifat jangka panjang dan mempengaruhi kualitas generasi masa depan.

“Stunting mengganggu perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat dewasa. Oleh karena itu, menurunkan angka stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan, tapi menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Lebih jauh, Amir Hasan mengapresiasi sederet capaian yang telah dicatat hingga saat ini. Ia menyebut bahwa kerja keras lintas sektor mulai menunjukkan hasil yang nyata. Meski begitu, tantangan yang ditemui masih sangat besar, terutama dalam mencapai target nasional prevalensi stunting sebesar 14 persen pada tahun 2025.

“Waktu kita tinggal sedikit. Maka, dibutuhkan inovasi dan komitmen berkelanjutan dari semua pihak, baik dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, maupun masyarakat,” ujarnya.

Sekda Kota Kendari mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga semangat kolaborasi dan menjadikan upaya penurunan stunting sebagai agenda utama pembangunan daerah. Ia optimis bahwa dengan penguatan kolaborasi dan strategi yang tepat, misi penurunan kasus stunting bisa tercapai sesuai target.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Kendari, Jahudding, dalam laporannya menyampaikan bahwa Wali Kota Kendari menegaskan stunting sebagai persoalan strategis yang berdampak pada kualitas generasi mendatang.

Di bawah komando Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, Pemkot Kendari diketahui telah merumuskan program mitigasi stunting Tahun 2025, dengan meluncurkan Gerakan Orangtua Cegah Stunting (Genting) dengan target 1.018 keluarga berisiko, serta mendorong evaluasi capaian, penyusunan tindak lanjut, dan kesepakatan peran antarstakeholder.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkot Kendari juga menyerahkan IUD Kit dan Implant Kit kepada lima fasilitas pelayanan kesehatan, yakni Puskesmas Benu-Benua, Klinik Korem, Rumah Sakit Antero Hamra, Faskes Mandiri Kartini, dan Bidan Hartini.

Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di masyarakat.(*)

 

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA