Pemkot Kendari Rumuskan Strategi Mitigasi Risiko Inflasi

waktu baca 3 menit
Senin, 6 Okt 2025 18:32 288 Vritta

Vritta.id-Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan komitmennya mendukung kebijakan nasional yaitu menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok. Ia juga menginstruksikan jajarannya agar lebih aktif memantau harga pasar, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mempercepat program ketahanan pangan lokal.

Penegasan ini diungkapkan Wali Kota Siska saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah (Rakor PID) Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan pembahasan pertumbuhan ekonomi serta evaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap Program Tiga Juta Rumah, yang digelar daring/online, dari ruang Command Center Balai Kota Kendari, Senin, 6 Oktober 2025

Rakor tersebut dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), Tomsi Tohir. Ia menyampaikan kondisi terkini, khususnya laju inflasi di berbagai daerah di Indonesia.

Sekjen menyoroti grafik inflasi bulan September 2025, yang menunjukkan tren peningkatan di sejumlah kabupaten/kota, termasuk di Sulawesi Tenggara.

Menurut data Kemendagri, laju inflasi di beberapa kabupaten/kota Sulawesi Tenggara mencapai 3,68%, sementara salah satu provinsi mencatat inflasi hingga 5,2%. Tomsi menegaskan, kondisi ini berdampak nyata pada daya beli masyarakat. Karena itu, ia meminta atensi khusus seluruh instrumen Pemkot Kendari.

Selain menyoroti fenomena inflasi, rakor ini juga turut membahas evaluasi dukungan pemerintah daerah dalam Program Tiga Juta Rumah. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat dalam memenuhi kebutuhan perumahan rakyat, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Sekjen Tomsi sendiri menyoroti masih rendahnya kontribusi beberapa daerah, baik dalam pendataan maupun penyediaan lahan untuk mendukung program perumahan tersebut.

Diketahui, inflasi merujuk pada kenaikan harga barang dan jasa terus menerus dalam periode tertentu. Salah satu indikator pemicu inflasi adalah meningkatnya peredaran uang kertas akibat penurunan nilai mata uang sehingga berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa.

Dampak Inflasi
1. Menurunnya daya beli: Harga barang dan jasa naik, sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, sehingga nilai uang menurun dan daya beli melemah.

2. Meningkatnya kesenjangan sosial: Dampak inflasi lebih parah dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak memiliki fleksibilitas finansial, sementara kelompok berpenghasilan tinggi lebih mampu mengimbanginya.
3. Menguntungkan pihak tertentu: Inflasi bisa menguntungkan pihak yang pendapatannya naik lebih tinggi dari inflasi, namun secara umum lebih banyak pihak yang dirugikan.

4. Meningkatnya suku bunga pinjaman: Lembaga keuangan akan menaikkan suku bunga untuk menjaga nilai mata uang, yang bisa menghambat investasi dan pengembangan usaha.

5. Mendorong investasi spekulatif: Investor cenderung menyimpan kekayaan pada aset yang nilainya stabil dan cenderung naik saat inflasi, seperti emas, tanah, atau saham.

Cara Mengatasi Inflasi

Bagi masyarakat

1. Berhemat: Batasi pengeluaran dan prioritaskan kebutuhan pokok agar permintaan barang dan jasa berkurang.
Meningkatkan penghasilan: Cari sumber pendapatan tambahan, seperti pekerjaan sampingan, investasi, atau bisnis kecil.

2. Berinvestasi: Alihkan tabungan ke instrumen investasi yang potensial memberikan keuntungan di atas tingkat inflasi, seperti saham, emas, atau properti.
Siapkan dana darurat: Sediakan dana cadangan untuk mengantisipasi kondisi finansial yang tidak menentu akibat inflasi.

3. Optimalkan asuransi: Tinjau kembali polis asuransi yang Anda miliki untuk menyesuaikan dengan kondisi inflasi.

4. Konsumsi produk dalam negeri: Mengurangi konsumsi produk luar negeri dapat membantu memperkuat ekonomi domestik.

5. Hindari utang konsumtif: Tingkat inflasi tinggi sering disertai kenaikan suku bunga, jadi hindari utang konsumtif jika tidak benar-benar perlu.

Bagi pemerintah

1. Kebijakan fiskal: Mengatur pendapatan dan pengeluaran negara, misalnya dengan menaikkan tarif pajak atau menghemat pengeluaran pemerintah.

2. Kebijakan moneter: Menjaga stabilitas harga melalui instrumen seperti menaikkan suku bunga acuan untuk mengerem laju inflasi.

3.Meningkatkan produksi: Memberikan insentif atau subsidi untuk perusahaan agar meningkatkan produksi dan suplai barang di pasar.

4.  Mengendalikan permintaan: Melakukan upaya untuk mengendalikan permintaan agregat agar tidak terlalu tinggi, contohnya dengan menaikkan suku bunga atau pajak.
5. Menjaga stabilitas nilai mata uang: Menstabilkan nilai tukar mata uang agar tidak mengalami depresiasi yang dapat memperburuk inflasi.(*)

 

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA