Sultra Deflasi 0,31 Persen pada Agustus 2026, Inflasi Tahunan 3,19 Persen

waktu baca 2 menit
Rabu, 30 Sep 2026 15:45 67 Vritta

Vritta.id-Inflasi Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 mengalami deflasi sebesar 0,31 persen (mtm), namun tetap dalam kendali.

“Kondisinya sejalan dengan normalisasi harga pangan setelah panen serta terkendalinya harga energi dan transportasi,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra, Edwin Permadi, Selasa, 29 September 2026.

Jika ditinjau secara tahunan, inflasi Sulawesi Tenggara tercatat 3,19 persen (yoy), yang masih dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Angka tersebut juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 3,35 persen (yoy).

Secara bulanan, deflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga beberapa komoditas, antara lain tomat sebesar -0,08 persen, ikan layang -0,07 persen, serta kangkung dan bahan bakar rumah tangga masing-masing -0,04 persen.

Sementara itu, penyumbang inflasi antara lain kacang panjang dan pendidikan tinggi masing-masing 0,03 persen, serta Angkatan laut 0,02 persen.

Sejalan dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi yang diselenggarakan pada 24 September 2026, TP2DD Sulawesi Tenggara menorehkan berbagai prestasi.

TPID Kabupaten Kolaka Timur diketahui meraih Juara 1 TPID Berprestasi Tingkat Kab/Kota se-Sulawesi. TPID Kabupaten Bombana meraih Juara 2 TPID Berprestasi Tingkat Kab/Kota se-Sulawesi.

TPID Kota Baubau meraih Juara 2 TPID Berkinerja Terbaik Tingkat Kab/Kota se-Sulawesi. Sementara TPID Provinsi Sulawesi Tenggara meraih Juara 3 TPID Berkinerja Terbaik Tingkat Provinsi se-Sulawesi.

Capaian ini sejalan dengan komitmen dan sinergi yang direalisasikan oleh pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta instansi terkait lainnya dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas pangan, dapat berjalan dengan baik.

Prestasi ini juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi kabupaten/kota lainnya untuk terus berinovasi dalam menjaga stabilitas pangan di daerah secara tepat sasaran dan berkelanjutan.

Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Inflasi adalah kondisi ketika harga-harga barang dan jasa secara umum naik dari waktu ke waktu. Artinya, uang yang kita pegang nilainya menurun, dengan jumlah uang yang sama, kita bisa membeli lebih sedikit barang. Bayangkan Kamu pergi ke toko kelontong dan menyadari bahwa sekantong beras yang tahun lalu seharga Rp6.500 per liter sekarang menjadi Rp18.500 per liter. Hal ini berarti nilai uang menurun; Kamu membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama.

Deflasi, di sisi lain, adalah kondisi ketika harga-harga barang dan jasa justru turun secara terus-menerus dalam suatu periode waktu. Menggunakan contoh toko kelontong yang sama, minggu ini harga beras Rp18.500 per liter. Minggu depan harga tersebut turun jadi Rp16.500 per liter, lalu turun lagi jadi Rp15.000 per liter di minggu berikutnya. Karena tahu harga terus menurun, kamu jadi menunda belanja, dan berharap minggu depan lebih murah lagi.

PENULIS : ERNILAM
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA