Dukung Penerapan Green Energy & Keberlanjutan, PLN & Ceria Teken Perjanjian Renewable Energy Certificate & Inter Temporal Capacity

waktu baca 5 menit
Selasa, 21 Mei 2024 10:48 174 Vritta

Vritta.id-Ceria Group menandatangani Perjanjian Pembelian Renewable Energy Certificate (REC) dan Perjanjian Pinjam Pakai Lahan untuk Pembangkit Listrik Inter Temporal Capacity (ITC) bersama PLN, Senin, 20 Mei 2024 di Kantor Pusat PLN, Jakarta.

Seperti diketahui, Ceria Group merupakan satu produsen utama bahan baterai kendaraan listrik ramah lingkungan di Indonesia, dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan fasilitas pemurnian, yang berbasis di Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia dan Perusahaan Listrik Negara (PT PLN Persero).

Fokus utama Ceria sejak memulai produksi nikel adalah untuk mendukung visi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo agar Indonesia memiliki pemimpin lokal dalam membangun rantai pasokan baterai kendaraan listrik ramah lingkungan guna memasok permintaan kendaraan listrik
global yang terus meningkat.

Ceria masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), Objek Vital
Nasional (Obvitnas), dan Daftar Proyek Prioritas Investasi Swasta (DPPIS) pada Rencana Kerja Pemerintah Republik Indonesia.

Kerjasama dan kolaborasi antara Ceria dan PLN sebagai BUMN sangat penting demi mendukung hilirisasi industri di Indonesia.

Renewable Energy Certificate (REC) atau Sertifikat Energi Terbarukan merupakan sertifikat yang diterbitkan oleh PLN dengan pengakuan internasional melalui APX, Inc. berbasis di Amerika Serikat.

Sebagai operator dari Tradable Instrument for Global Renewables (TIGRs), perusahaan ini menyatakan bahwa listrik yang digunakan Ceria berasal dari sumber energi terbarukan, dengan setiap 1 unit sertifikat REC mewakili konsumsi energi listrik 1 Megawatt-hour (MWh).

Ceria menjadi pionir pemakai REC di industri pemurnian nikel yang terintegrasi (mine mouth smelter) dan langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung industri nikel yang berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap tahap produksi nikel Ceria didukung oleh
energi yang ramah lingkungan, dengan sumber energi listrik sebagian besar berasal dari pembangkit listrik tenaga air, angin, mesin gas dan lainnya.

REC juga merupakan langkah PLN
dalam mendukung penggunaan energi bersih dan terbarukan, sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi karbon.

Derian Sakmiwata selaku CEO Ceria Group mengatakan bahwa perjanjian REC dan ITC antara Ceria dan PLN dilakukan untuk memastikan komitmen Ceria dalam memproduksi green nickel
product dengan proses pyrometallurgy melalui teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan Ferronickel dengan kadar nikel sebesar 22%.

Nickel Matte Converter
menghasilkan kadar nikel yang lebih tinggi diatas 73% dan proses hydrometallurgy melalui
teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Semua produk Ceria melalui proses pemurnian lanjutan, sebagai bahan baku Battery Precursor ke pasar Electriv Vehicle (EV) Battery.

“Sertifikat REC juga memastikan produk nikel Ceria memiliki jejak karbon
minimal (green footprint) yang mendukung aspek keberlanjutan, bagian dari kebijakan Environmental, Social and Governance (ESG) perusahaan. Penggunaan sertifikat REC oleh Ceria
akan naik secara bertahap dari sekitar 80.000 Unit di tahun 2024 menjadi 2,2 juta unit di tahun 2030,” kata Derian Sakmiwata, CEO Ceria Group.

Di kesempatan yang sama juga dilakukan Amendemen Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PLN dan Ceria dengan total kapasitas 414 MVA atau sekitar 352 MW, merupakan
penyempurnaan terkait aspek teknis dan administratif dari PJBTL yang telah ditandatangani di tahun 2018.

Pasokan listrik akan mulai dialirkan secara bertahap mulai pertengahan tahun 2024. PLN akan menyediakan tambahan daya listrik dengan menggunakan Barge Mounted Power Plant (BMPP) atau Pembangkit Listrik Terapung berbahan bakar gas dengan kapasitas 2 x 60 MW dengan fasilitas jetty dan fasilitas pendukung di area Ceria dengan target akan dibangun oleh
afiliasi PT PLN, Indonesia Power (IP). Target pembangunan jetty, tangki LNG dan fasilitas regasifikasi LNG di area Ceria akan dilakukan oleh afiliasi PT PLN, Energi Primer Indonesia
(EPI).

“BMPP berbahan bakar gas akan terhubung dengan Gardu Induk Smelter PLN Kolaka untuk menjaga kehandalan listrik smelter Ceria,” kata Derian.

Ceria juga berkomitmen  mendukung penuh PLN dalam penyediaan lahan pembangunan infrastruktur Inter Temporal Capacity di area Ceria dengan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) 200 MW oleh PLN Batam, dan target kedepannya penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 200 MW. Dukungan
penuh Ceria kepada PLN untuk kemaslahatan masyarakat terutama di area Sulawesi Selatan,
Tenggara dan Barat (Sulselrabar) serta menyukseskan program hilirisasi industri pemerintah dengan ikut mendukung program Net Zero Emission pada tahun 2050 seperti yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Penggunaan listrik dari PLN yang bersumber dari green energy, menunjukkan bahwa tidak
terdapat carbon foot print pembangkit listrik dari batubara dalam proses produksi smelter Ceria, sehingga produk olahan nikel yang dihasilkan akan memiliki emisi karbon yang sangat rendah dibandingkan produk olahan nikel lainnya yang beroperasi menggunakan listrik dari PLTU.

Dengan Green Energy Footprint, Tata Kelola Pertambangan yang baik atau Good Mining Practice dan kerangka ESG yang kuat, Ceria sebagai perusahaan pertambangan dan pemurnian nikel
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mempersiapkan business roadmap sebagai pemain global dalam rantai pasokan ekosistem Electric Vehicle (EV).

Sebagai pemain global, Ceria telah
mendapatkan pengakuan khusus dalam kategori Inflation Reduction Act (IRA) Compliant sebagai pelaku industri yang berkomitmen pada praktik pertambangan yang berkelanjutan serta terbuka dalam hal partnership secara profesional dengan negara manapun di level global.

“Dengan dukungan PLN, Ceria siap berada di baris terdepan dalam transformasi industri nikel menuju masa depan yang berkelanjutan. Langkah ini menunjukkan komitmen Ceria sebagai
pelopor dalam produksi green nickel, yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan bangsa,” tutup Derian.

PENULIS : ADMIN
EDITOR : ERNILAM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA